Pengertian dan Hukum Aqiqah Beserta Penjelasan Lengkapnya

Aqiqah merupakan salah satu sunnah yang sangat penting dan harus terus dikembangkan agar syiar Islam semakin terasa dan berkembang dalam kehidupan kit

Kata Pengantar

Aqiqah merupakan salah satu sunnah yang sangat penting dan harus terus dikembangkan agar syiar Islam semakin terasa dan berkembang dalam kehidupan kita dan ajaran agama Islam tidak dianggap asing oleh masyarakat. 

Karena begitu ditekannnya pelaksanaan aqiqah, maka setiap orang tua sudah tentu harus siap menyiapkannya, paling tidak selama sembilan bulan masa kehamilan sudah mulai mengumpulkan dana, tidak saja untuk biaya kelahiran tetapi juga untuk biaya pembelian kambing aqiqah. Kalau ada kemauan yang kuat dan tekad yang membara Insya Allah ada jalan keluar yang Allah SWT berikan. 

Pengertian Aqiqah

Kata Aqiqah berasal dari bahasa Arab yaitu 'Aqqun' yang secara harfiah artinya adalah 'memutus', ada suatu pendapat yang mengatakan bahwa aqiqah adalah nama bagi hewan yang disembelih, dinamakan demikian karena hewan itu lehernya 'dipotong'. 

Dari segi syara' yang dinamakan aqiqah adalah sebuah kegiatan menyembelih hewan ternak yaitu kambing atau domba sebagai rasa syukur kepada Allah SWT dan penebus atas karunia anak laki-laki atau perempuan yang dilahirkan. Anak yang dilahirkan memang tergadai dan memutuskan gadaian itu adalah dengan cara aqiqah. 

Hukum Aqiqah

Setelah kita tahu makna aqiqah, kemudian bagaimana hukum aqiqah menurut para ulama? Para ulama sendiri berbeda pendapat tentang hukum aqiqah itu sendiri, namun secara garis besar ada dua pendapat, ada yang mewajibkan dan (hukumnya wajib) ada yang menyunahkan (hukumnya sunnah). 

Nah, dari dua pendapat itu sebagian besar para ulama sepakat bahwa aqiqah itu hukumnya Sunnah Muakkad, yaitu sunnah yang ditekankan bahkan mendekati hukum wajib. 

Hewan Sembelihan Aqiqah

Al-Imam Malik berkata : Aqiqah itu seperti layaknya nusuk (sembelihan denda larangan haji) dan udhhiyah (qurban), tidak boleh dalam aqiqah itu hewan yang picak, kurus, patah tulang dan sakit. Imam As-Syafi'ie berkata : Harus dihindari dalam aqiqah ini berbagai cacat yang tidak diperbolehkan dalam qurban. 

Namun dalam aqiqah tidak diperbolehkan berserikat sebagaimana dalam qurban, sehingga bila seseorang melakukan aqiqah dengan menyembelih sapi atau unta itu hanya cukup untuk satu orang saja, tidak boleh untuk tujuh orang. 

Jumlah Hewan Aqiqah

Jumlah hewan aqiqah yang mencukupi dan boleh adalah satu ekor, baik untuk laki-laki maupun untuk perempuan, sebagaimana perkataan Ibnu Abbas Ra : "Sesungguhnya Nabi Saw mengaqiqahi Hasan dan Husein satu domba satu domba. "

Namun yang lebih utama adalah mengaqiqahi anak laki-laki dengan dua ekor dan anak perempuan seekor. Hal ini berdasarkan hadist Nabi yang diriwayatkan dari Sayyidah Aisyah Ra yang berbunyi : "Dari Aisyah Ra bahwa Rasulullah Saw memerintahkan kepada mereka (para sahabat) untuk aqiqah dari bayi laki-laki dua ekor domba yang sama (usianya) dan bayi perempuan seekor domba." (HR. At-Tirmidzi) dengan derajat hadits Shohih. 

Cara Menyembelih

Penyembelihan hewan menurut cara Islam adalah kedua syaraf utama harus dipotong tanpa memenggalkan kepalanya. Pemotongan kedua urat syaraf tersebut akan menyebabkan kehilangan darah yang sangat banyak di jantung dan di otak  dalam waktu yang sangat singkat dan seterusnya akan menyebabkan penutupan kedua organ tersebut. Ini akan menyebabkan kematian yang cepat dan tidak menyakitkan. 

Sebuah kajian yang dilakukan oleh Universitas Hannover di Jerman telah membuktikan bahwa cara penyembelihan Islam akan memastikan bahwa hewan akan mati dalam waktu cepat. Justru pemotongan dengan menggunakan listrik seperti yang dilakukan di berbagai negara barat menimbulkan sakit yang luar biasa bagi hewan. 

Islam melarang pembunuhan berbagai jenis hewan dengan tidak bermoral. Sedangkan hewan sendiri boleh dibunuh di dalam dua hal keadaan. 

  1. Apabila ia membahayakan nyawa manusia. 
  2. Apabila ada keperluan untuk memakan dagingnya. 

Islam mengharamkan memakan daging hewan tanpa disembelih seperti mencekik, dipukul dengan benda tumpul atau cara lainnya selain disembelih. 

Pembagian Aqiqah

Daging aqiqah boleh dibagikan dengan ketentuan sebagai berikut :

  • Sepertiga untuk kaum fakir miskin
  • Sepertiga untuk saudara dan sahabat handai taulan
  • Sepertiga lagi untuk makan Anda dan keluarga atau boleh dibagikan kepada orang yang bukan Islam. Tetapi seluruhnya dibagikan kepada fakir miskin juga boleh saja. 

Waktu Pelaksanaan Aqiqah

Aqiqah dilaksanakan pada hari ketujuh dan bersamaan dengan itu dicukur rambutnya dan diberi nama. Rasulullah Saw bersabda yang artinya : "Setiap anak digadaikan dengan aqiqahnya, disembelih aqiqah itu pada hari ketujuh, lalu dicukur dan dinamai. " (HR. Ahmad). 

Bila tidak bisa melaksanakan pada hari ketujuh, maka bisa dilaksanakan pada hari yang ke empat belas, dan bila belum bisa juga maka pada hari yang ke dua puluh satu, Hal ini berdasarkan riwayat hadits dari Abdullah ibnu Buraidah Ra dari ayahnya dari Rasulullah Saw, beliau Saw berkata yang artinya : "Hewan aqiqah itu disembelih pada hari ketujuh, ke empat belas, dan ke dua puluh satu." (HR. Al-Baihaqi dengan derajat hadits Hasan). 

Namun bila setelah tiga minggu masih belum mampu juga maka boleh kapan saja pelaksanaannya jika sudah mampu. Karena pelaksanaan pada hari ke tujuh, ke empat belas, dan ke dua puluh satu adalah sifat sunnah dan paling utama dan bukan perkara wajib, bahkan boleh juga melaksanakannya sebelum hari ke tujuh. 

Bayi yang meninggal dunia sebelum hari yang ke tujuh di sunnahkan untuk disembelihkan aqiqahnya, bahkan juga untuk bayi yang keguguran dengan syarat sudah berusia empat bulan dalam kandungan rahim ibunya. 

Suatu ketika Al-Maimani bertanya kepada Imam Ahmad Ra, "Jika ada orang yang belum diaqiqahi apakah ketika ia besar nanti ia boleh mengaqiqahi dirinya sendiri?" Lalu Imam Ahmad menjawab : "Menurutku, jika ia belum diaqiqahi ketika kecil, maka lebih baik melakukannya sendiri saat ia dewasa". 

Para pengikut Imam As-Syafi'ie juga berpendapat sama dengan pendapatnya Imam Ahmad. Menurut mereka, anak yang sudah dewasa yang belum diaqiqahi oleh orang tuanya, dianjurkan baginya untuk melakukan aqiqah sendiri. 

Dan aqiqah boleh dilakukan dimana saja, disaksikan oleh orang yang melakukan aqiqah tersebut atau tidak. Yang terpenting adalah sudah diniatkan untuk aqiqah, dan tukang sembelih meniatkan untuk aqiqah nama tersebeut ketika menyembelih, maka aqiqah tersebut adalah sah menurut syara'. 

Dibolehkan melakukan aqiqah untuk seorang bayi oleh orang lain yang bukan ibu bapaknya, lebih-lebih bagi orang tua angkat yang akan merawat anak tersebut. 

Mencukur Rambut

Mencukur rambut bayi merupakan sunnah muakkad, baik bagi bayi laki-laki maupun bayi perempuan, pelaksanaannya adalah pada hari ke tujuh dari kelahiran dan alangkah lebih baiknya jika dilaksanakan berbarengan dengan aqiqah. 

Adapun faedah atau manfaat mencukur rambut bayi tersebut, menurut Ibnu Al-Qoyyum adalah sebagai berikut : "Mencukur rambut bayi adalah pelaksanaan perintah Rasulullah Saw untuk menghilangkan kotoran. Dengan demikian kita membuang rambut yang jelek atau lemah dan menggantinya dengan rambut yang kuat dan lebih bermanfaat bagi kepala dan lebih meringankan untuk si bayi. Dan hal tersebut berguna untuk membuka lubang pori-pori yang ada di kepala supaya gelombang panas bisa keluar, dimana hal tersebut sangat bermanfaat untuk menguatkan indera penglihatan, penciuman dan pendengaran si bayi".

Kemudian rambut yang telah dipotong tersebut ditimbang dan disunnahkan untuk bersedekah dengan seharga perak sesuai dengan berat timbangan rambut bayi tersebut. Hal ini sesuai dengan perintah Rasulullah Saw kepada putrinya Sayyidah Fatimah Ra : "Hai Fatimah cukurlah rambutnya, dan bersedekahkanlah dengan perak sesuai dengan berat timbangan rambutnya kepada fakir miskin". (HR. At-Tirmidzi dan Al-Hakim). 

Dalam pelaksanaan mencukur rambut, perlu diperhatikan larangan Rasulullah Saw untuk melakukan "Al-Qaz'u" yaitu mencukur sebagian rambut dan membiarkan yang lainnya (HR. Bukhori dan Muslim). 

Ada sejumlah gaya atau model mencukur rambut yang termasuk dalam kategori "Al-Qaz'u" antara lain :

  • Mencukur rambut secara acak disana sini tanpa beraturan. 
  • Mencukur rambut bagian tengahnya saja dan membiarkan rambut di sisi kepalanya. 
  • Mencukur rambut bagian sisi kepala dan membiarkan bagian tengahnya. 
  • Mencukur rambut bagian depan dan membiarkan bagian belakang atau sebaliknya. 

Pemberian Nama

Nama bagi seseorang sangatlah penting dan berarti. Ia bukan hanya sebuah identitas pribadi dalam sebuah masyarakat, namun juga merupakan cerminan dari karakter seseorang. Rasulullah Saw menegaskan bahwa suatu nama sangatlah identik dengan orang-orang yang diberi nama. 

Dari Abu Hurairah Ra, Rasulullah Saw bersabda : "Aslam semoga Allah menyelamatkannya dan Ghifar semoga Allah mengampuninya." (HR. Bukhori dan Muslim). 

Hikmah Aqiqah

Adapun aqiqah sebagaimana memurut Al-Ustadz As-Syekh Abdullah Nashih dalam kitabnya 'Tarbiyatul Aulad fil Islam' menerangkan beberapa hikmah aqiqah diantaranya adalah :

  1. Menghidupkan sunnah Nabi Muhammad Saw dalam meneladani Nabiyullah Ibrahim As, tatkala beliau menebus putranya Nabiyullah Ismail As. 
  2. Melindungi anak dari gangguan syetan. Seorang ulama yaitu Syekh Ibnul Qoyyum Al-Jauziyah berkata : "Lepasnya dia dari syetan tergadai oleh aqiqahnya".
  3. Tebusan hutang anak untuk memberikan syafaat bagi kedua orang tuanya. Imam Ahmad berkata : "Dia tergadai dari memberikan syafaat bagi kedua orang tuanya (dengan aqiqahnya)". 
  4. Merupakan bentuk taqorrub (pendekatan diri) kepada Allah SWT serta wujud rasa syukur atas dikaruniai lahirnya sang anak. 
  5. Aqiqah dapat memperkuat ukhuwwah (persaudaraan) dalam masyarakat. 

Demikian penjelasan tentang aqiqah, semoga bermanfaat. 

ELZEERA is an online media portal that provides various INFORMATION and NEWS from various themes or topics of discussion that are updated and trusted.